Epistemologi Ilmu dalam Islam

EPISTEMOLOGI ILMU DALAM ISLAM[1]

Oleh Ma’zumi, S.Ag., M.Ag.[2]

Epistemologi merupakan studi filosofis tentang asal, struktur, metode-metode, kesahehan dan tujuan pengetahuan. Epistemologi menjelaskan tentang apa yang disebut dengan kebenaran dan menjelaskan tentang cara memperoleh kebenaran itu. Epistemologi juga menjelaskan proses dan prosedur yang memungkinkan digali atau diperolehnya pengetahuan sehingga diperoleh pengetahuan yang berupa ilmu serta hal-hal yang harus dipertimbangkan sehingga diperoleh pengetahuan yang benar.

Epistemologi dianggap juga sebagai filsafat ilmu yang mempertanyakan sesuatu secara ontologis dan aksiologis, sehingga ilmu berkembang menjadi suatu disiplin pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan aturan-aturan dengan penuh kesungguhan.

Ilmu, ibarat tulang dalam tubuh, yang memberikan kekuatan dalam mengaktualisasikan fungsi ragawi; ilmu ibarat obor penerang kegelapan, yang membimbing manusia untuk tidak berprilaku menyimpang dari kebenaran; ilmu ibarat obat atau jamu bagi yang sakit yang menutup atas kekurangan dan memenuhi atas kebutuhan; ilmu merupakan kendaraan yang menghantarkan kepada tujuan setiap pemiliknya sesuai cita-cita wahyu atau sesuai dengan harapan Sang Pencipta; dan ilmu merupakan pembeda antara manusia dan makhluk lain, teraplikasikannya totalitas fungsional potensi-potensi dalam diri manusia menempatkannya pada kelompok terhormat (derajat yang mulia), jika sebaliknya maka derajat kehinaan bagai binatang

Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. al-A’rof: 179).

Demikian amat pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia, Alloh menciptkan manusia dengan berbagai potensi, media dan fasilitas yang diperlukan, baik dalam diri maupun di luar diri manusia.

Pada kosepsinya, dalam daur ijtinani, ada dua hal yang amat penting untuk diingat dan dipahami setelah manusia dilahirkan, yaitu:

*Saat peniupan ruh

Pola perkembangan manusia pada daur ijtinani dimulai dari masa konsepsi (nutfah), kemudian menjadi ‘alaqoh, kemudian menjadi mudghoh, lalu tulang belulang yang dibungkus dengan daging sampai menjadi makhluk yang (berbentuk) lain (Q.S. Al-Mu’minun, 12-14).

Dalam penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Kata ibnu Mas’ud r.a. : “Telah berkata kepada Rasululloh saw., dia yang benar dan dibenarkan, katanya: “Sesungguhnya setiap orang dari kami dihimpunkan kejadiannya dalam rahim ibunya empat puluh hari dalam keadaan nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi mudghoh selama empat puluh hari pula, kemudian dikirim seorang malak lalu menghembuskan roh ke dalam mudghoh itu serta diperintahkan menuliskan empat buah kalimat: rizkinya, umurnya, pekerjaannya, dan nasib sengsara atau bahagianya”.

*Saat agremen primordial dengan Alloh

Ketika Alloh mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”….

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,(Q.S. Al-A’rof, 172).

Dalam pandangan sufistik, dengan dua hal penting tersebut, manusia memiliki potensi ilahiyyah, atau oleh Ibn Taimiyyah disebut al-fithroh yang menjadikan manusia senang dan rindu akan kebaikan dan kebenaran. Potensi ini dilengkapi dengan media akal, qolbu dan panca indera.

Potensi akal (kecerdasan intellektual), melalui daya nalar dan rasionya berfungsi untuk mengetahui Alloh dan mengimaninya (sebagai homo religius), membedakan yang baik dan yang buruk. Ketepatan nalar dan rasio manusia mesti berada dalam barometer kebenaran wahyu, karena secara fitroh manusia juga dihadapkan kepada nafsu baik dan nafsu buruk sebagai suatu ujian dan pilihan yang telah dijelaskan Alloh dan rasulNya, bahwa yang baik, al-haq adalah baik dengan berbagai penjelasannya dan yang buruk, al-bathil adalah buruk dengan berbagai keterangannya.

Manusia, dengan potensi ilahiyah atau fithrohnya (Q.S. al-Nur: 35), melalui al-qolbu (kecerdasan spiritual) berpotensi untuk mengetahui sesuatu yang abstrak yang tidak dapat diketahui oleh panca indera dan melakukan intellektualisasi atas segala sesuatu, juga berpotensi untuk menerima dan menunaikan wahyu (sesuai dengan kemampuannya) sebagai petunjuk hidup yang menjamin keselamatan dan kebahagiaannya, dunia dan akhirat, jika jalan yang dipilihnya adalah sabil al-haq.

Tidak mungkin Alloh amanatkan wahyuNya kepada ummat manusia sebagai way of life jika tidak dapat dipahami atau di luar jangkauan nalar atau rasio manusia. Hanya manusia yang sanggup menerima amanat itu

(Q.S. Al-Ahzab: 72)

Wahyu dan akal merupakan sumber kebenaran dan pengetahuan yang tidak terbantahkan dan tidak terpisahkan

Pengetahuan, dalam arti ilmu, mencakup pengetahuan tentang Alloh (aqidah) dan pengetahuan tentang ciptaanNya atau hukum-hukumnya (syari’ah) yang digali dari sumber ayat-ayat qauliyyah (al-Qur’an) dan kauniyyah (alam semesta, termasuk manusia itu sendiri) dengan barometer prilaku rasulNya, Muhammad saw, baik melalui metode empiris maupun intuitif (kasyfiyyah).

Ilmu pengetahuan, diperoleh dengan metode empiris melalui daya akal dan panca indera, dan dengan metode intuitif melalui daya qolbu.

Pengalaman seseorang dapat dijadikan argument (burhan atau dalil) jika kebenarannya nyata dalam realitas sosial

Manusia berperan sebagai kholifah fi al-ardl yang bertugas sebagai ‘abd (pengabdi atau hamba Alloh) –homo religius– dan musta’mir al-ardl (pembudi daya alam smesta, pengguna dan penjaga kelestarian alam) –homo social scientic-. Kedua tugas ini sebagai konsekuensi dari potensi keilmuan.

Untuk mendukung kedua tugas tersebut, mesti memiliki pengetahuan yang bersifat transformative ritualistic (perangkat mekanisme sebagai ‘abdun) dan transformative scientific (sebagai perangkat mekanisme mengelola, menggunakan dan menjaga kelestarian semesta raya).

transformative ritualistic, disamping sebagai mekanisme ritualistic juga sebagai rambu-rambu lalu lintas prilaku kehidupan manusia terhadap semua aspeknya, sedangkan transformative scientific disamping sebagai upaya bersaing dan bertahan hidup juga merupakan sarana atau media yang dapat dijadikan sebagai penyempurna transformative ritualistic, bahkan menjadi tangga mencapai sang Pencipta.

Demikian dalam Islam tidak mengenal dikotomisasi keilmuan dari aspek tujuan ilmu,dimana pada akhirnya semua bidang disiplin ilmu pengetahuan diserukan bermuara kepada kepentingan penyelamatan diri juga ummat, dengan kreteria al-a’mal al-solihat, tasoluh bainannas. Ilmu, yang membedakan adalah pembidangan tugas manusia dalam perannya sebagai kholifah fi al-ardl.

Akhirnya saya mucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan untuk menyajikan materi epistemologi ilmu dalam Islam.

DAFTAR BACAAN

Al-Qur’an al-Karim

Al-Ghozali, Ihya’ ‘Ulumuddin, ter. jilid 1, Asysyifa, Semarang, 1990

———- , Mukasyafah al-Qulub, t.t.

Al-Zamahsari, Tafsir al-Kasysyaf, Beirut, t.t.

Tim Dosen MKPK PAI, Islam Progressif, Untirta Press, 2005

‘Ulumul Qur’an, jurnal tiga bulanan, Oktober-Desember, 1990


[1] Makalah disampaikan dalam Dialog Keislaman, pengajian bulanan Studi Dakwah Islam Al-Furqon, Bojonegara, 09 Juni 2007

[2] Penulis adalah dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Pandeglang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s